Manahara Siahaan, Junjung Tenaga Kerja Konstruksi Dalam Derajat Sebaik-baiknya

Figur senior nan lantang di sektor jasa konstruksi ini, tak pernah kendur dalam mengkritisi kebijakan-kebijakan negara yang terkait dunia rancang bangun, terutama keprofesionalan tenaga ahli bidang konstruksi. Keahlian tenaga kerja konstruksi, adalah sebuah keselarasan perkembangan bangsa.

Usia sepertinya tak mampu berpacu menandingi kencangnya semangat Manahara Robert Siahaan dalam berkontribusi untuk kemajuan dunia konstruksi negeri ini. Selaku Ketua Umum Asosisasi Tenaga Kerja Konstruksi Indonesia ATAKI, Manahara menjunjung tinggi dan berusaha menempatkan tenaga kerja ahli sektor konstruksi negeri ini dalam derajat yang sebaik-baiknya.

Menurut Manahara, keahlian tenaga kerja kontruksi Indonesta tak perlu diragukan lagi. Sumber daya jenjang keahlian muda, madya hingga utama, mampu mengisi kebutuhan pasok di ragam konstruksi infrastruktur. Konstruksi bendungan, jalan dan jembatan menjadi prioritas di era Pemerintahan Presiden Joko Widodo kali ini. Infrastruktur transportasi seperti pelabuhan dan kereta api, juga mendapat perhatian khusus. “Pemerintah Jokowi kali ini seperti mengajarkan kita semua bagaimana membangun sebuah negeri yang begitu besar,” ujarnya.

Besarnya volume proyek infrastruktur dan sebagiannya juga masuk dalam program percepatan, membutuhkan tak cuma tenaga kerja dalam jumlah banyak, namun keahlian juga harus menyertai. Manahara begitu keras dalam melabeli keahlian tenaga kerja konstruksi. Dalam payung Ataki, sertifikasi keahlian tenaga kerja konstruksi dipastikan teruji. Proses panjang memperolehnya, klarifikasi data, wawancara hingga pengujian harus dilampaui.

Manahara dan Ataki-nya tak pernah tergiur untuk meniru asosiasi-asosiasi lainnya yang begitu mudahnya menerbitkan sertifikat keahlian kepada pemohon. Sertifikat instan dengan biaya lebih tentu saja. Baginya, keahlian adalah tanggung jawab bersama dalam mendukung program percepatan infrastruktur. Tenaga tenaga ahli inilah yang nantinya akan membangun kebesaran bangsa ini dengan jalan yang benar dan hasil akhir yang dapat dipertanggungjawabkan.

Manahara menambahkan, patut disayangkan juga beberapa waktu lalu pemerintah sempat membagi-bagikan sertifikat keahlian pada ribuan tenaga kerja konstruksi tanpa menyertakan asosiasi-asosiasi yang kompeten sebagai tenaga penguji di dalamnya. Padahal, untuk program sertifikasi ini memerlukan anggaran yang tak kecil. Dalam waktu dekat ini, Manahara berharap dapat berdialog dengan pihak Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Pihak Kemenko Ekuin, dirasa perlu mengetahui secara mendetail akan bobot sertifikasi yang nantinya pun akan menentukan kualitas tenaga kerja. Dan pada akhirnya akan menentukan kualitas hasil akhir bangunan dari sebuah proyek konstruksi. “Bisa dipahami bila dalam percepatan kita membutuhkan tenaga kerja bersertifikat dalam jumlah banyak, namun jangan sampai dana yang besar ini menjadi mubazir,” kata Manahara.

Jika tenaga kerja kontruksi lokal saja menjadi sorotannya, apalagi persoalan tenaga kerja asing yang turut meramaikan dunia konstruksi tanah air akhir-akhir ini. Lanjutnya, sudah bukan isu lagi perihal maraknya tenaga kerja asing. Dalam klausul bisnis mungkin saja investor asing menghendaki memboyong tenaga kerja konstruksinya ke Indonesia, namun fairness kompetensi harus pula dijunjung tinggi sebagai wujud keadilan sosial. “Tunjukkan data kompetensi internasional dari para pekerja asing ini, itupun jika memang punya, apakah memang lebih baik dari tenaga kerja kita sendiri,” ungkapnya.

Kepedulian dan ketajamannya yang begitu besar akan dunia rancang bangung, terutama tenaga kerja konstruksi, memang terasa dari sosok organisator pengusaha jasa konstruksi di Indonesia ini. Ia tercatat sebagai pendiri dari tiga asosiasi besar di Indonesia, yakni Gapekan (Gabungan Pengusaha Konstruksi Nasional) yang beranggotakan badan usaha jasa pelaksana konstruksi, ATAKI (Asosiasi Tenaga Kerja Konstruksi Indonesia) yang beranggotakan profesional konstruksi dan ASKONI (Asosiasi Konsultan Nasional Indonesia) yang menghimpun badan usaha jasa konsultan konstruksi.

Konstribusinya sepanjang lebih 30 tahun dalam perkembangan organisasi terkait konstruksi mulai dari Gapensi, Ardin, Kadin, LPJK (Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi), hingga LJKI (Lembaga Jasa Konstruksi Indonesia) yang dahulu pernah ia dirikan sebagai lembaga tandingan bagi LPJK, pada akhirnya juga mendorong Manahara untuk dinobatkan sebagai seorang tokoh reformasi jasa konstruksi di Indonesia. Dalam konteks ini, Manahara dianggap telah berhasil mendobrak sistem monopolistik yang sempat mencengkeram dunia jasa konstruksi di Indonesia selama puluhan tahun dan menjadikannya lebih demokratis dan terbuka.

Karir Manahara sebagai pengusaha jasa konstruksi di Indonesia, sebenarnya bermula sekitar tahun 1970. Saat itu, Manahara mendirikan sebuah perusahaan kontraktor kecil di Jakarta, yang ia beri nama sesuai dengan perusahaan ayahnya di Pematang Siantar. Jika perusahaan ayahnya bernama CV Riama, maka Manahara menamakan perusahaannya CV Riama Junior. Usaha ini ia jalani sejak masih duduk di bangku kuliah di Fakultas Teknik Sipil, Universitas Trisakti Jakarta.

Diawali dengan membangun sebuah gardu listrik untuk PLN di Jakarta, perusahaan itu sempat berkembang selama beberapa tahun, hingga pada akhirnya ia tutup karena bangkrut. Setelah mampu mengobati kekecewaannya, Manahara bangkit lagi dengan membangun sebuah perusahaan baru, PT Kencana Rodo yang ia rintis sejak tahun 1967. Kali ini usahanya berjalan lancar.

Manahara kemudian menjadi Direktur Utama di PT Kencana Rodo, jabatan yang masih ia lakoni hingga saat ini. Nama Kencana Rodo sendiri, menurut Manahara, berasal dari dua kata yang berbeda asal. Satu dari bahasa daerah Jawa, Kencana berarti kereta, dan satunya lagi dari bahasa Batak, Rodo artinya emas. Sehingga gabungan kedua kata ini, kira-kira bermakna kereta/pengangkut emas/rejeki. Harapannya tentu saja agar kegiatan usaha PT Kencana Rodo berjalan dan menghasilkan banyak keuntungan. Dalam perkembangannya kemudian, Manahara juga membentuk Grup Kencana Rodo, yang salah satu unit usahanya bergerak di bidang konstruksi.

Manahara telah malang melintang di dunia jasa konstruksi di Indonesia, ini benar-benar membuat Manahara menjadi sosok yang lengkap dalam konstruksi. Ia tidak saja menguasai sisi teknis dan bisnis jasa konstruksi, namun juga sisi politisnya. Agus G. Kartasasmita, tokoh konstruksi negeri inipun memberi sebuah pengakuan akan sosok Manahara sebagai tokoh yang mampu mereformasi dunia jasa konstruksi dan menjadikannya seperti saat ini.

Banyak asosiasi jasa konstruksi yang sekarang ada, sebenarnya tidak akan muncul bila tanpa perlawanan Manahara pada waktu itu. Banyaknya asosiasi jasa konstruksi saat ini, membawa kebaikan-kebaikan, karena semakin banyak pihak yang ikut memikirkan perkembangan jasa konstruksi nasional, tentu makin baik. Perjalanan panjang bagi Manahara. (hs)

Artikel asli dapat dibaca pada majalah Techno Konstruksi Edisi 131 dengan Judul Revolusi Industri 4.0 Tantangan dan Strategi Sektor Konstruksi

(021) 4711796

Ruko Grha Mas Pemuda Blok AD/3
Rawamangun, DKI Jakarta