Etika, Melandasi Penyelenggaraan Jasa Konstruksi
Manahara Siahaan
Manahara Siahaan

Tergantung pada sudut pandang penggunanya, istilah etika seringkali memiliki arti yang berlainan. Bagi ahli falsafah misalnya, etika adalah ilmu atau kajian formal tentang moralitas, yakni hal-hal yang menyangkut sistem tentang motivasi, perilaku dan perbuatan manusia yang dianggap baik atau buruk.

Franz Magnis Suseno, seorang budayawan, menyebut etika sebagai ilmu yang mencari orientasi bagi usaha manusia untuk menjawab pertanyaan yang amat fundamental: bagaimana saya harus hidup dan bertindak? Sementara Peter Singer, filsuf kontemporer dari Australia menilai kata etika sebenarnya sama saja artinya dengan moralitas, karena itu dalam buku-bukunya ia menggunakan kedua kata itu secara tertukar-tukar.

Bagi seorang sosiolog, etika adalah adat, kebiasaan dan perilaku orang-orang dari lingkungan budaya tertentu. Bagi praktisi profesional termasuk dokter, praktisi hukum, insinyur dan lainnya, etika biasanya diartikan sebagai kewajiban dan tanggung jawab mereka dalam memenuhi harapan (ekspektasi) profesi dan masyarakat, serta bertindak dengan cara-cara yang profesional. Dengan kata lain, etika diartikan sebagai salah satu kaidah yang menjaga terjalinnya interaksi antara pemberi dan penerima jasa profesi secara wajar, jujur, adil, profesional dan terhormat.

Tentu masih banyak lagi arti dan definisi yang dapat dipaparkan tentang istilah etika ini. Bila dalam persoalan istilah saja sudah begitu banyak perbedaan, bisa dibayangkan betapa biasnya persoalan etika pada saat kita ingin masuk lebih jauh ke dalamnya. Terkait etika dalam bidang jasa kontraktor dan konsultan konstruksi, tentunya, tak terkecuali masih banyak pertanyaan yang mesti dijawab.

Bagaimana kesepakatan untuk berlaku etis dirumuskan dalam bidang jasa konstruksi? Bagaimana rumusan etika konsultan itu kemudian ditegakkan? Lalu apa saja yang telah dilakukan oleh asosiasi- asosiasi yang berada di bawah kepemimpinan Manahara Siahaan selama ini? Bagaimana Gapeknas, Ataki dan Askoni yang kini telah menjadi asosiasi-asosiasi besar di Indonesia mengelola dan menerapkan kode etik kepada para anggotanya? Apa saja kasus etika yang pernah terjadi, dan bagaimana prosedur penyelesaiannya? Berbagai pertanyaan tersebut yang hendak dijawab dalam tulisan ini.

Persoalan penegakkan etika, rasanya memang masih menjadi “tantangan” bagi semua kalangan baik dari sisi perumusan kode etik, sosialisasinya, menanamkan pemahaman etis dalam benak para pelaku jasa konstruksi, hingga penerapannya ketika terjadi dugaan kasus etika. Namun di sisi lain, banyak juga “harapan” yang ditumpukan padanya, demi mewujudkan jasa konstruksi yang profesional, bermartabat dan beretika. Di tengah derasnya arus perubahan sosial, budaya maupun teknologi dalam beberapa dasawarsa ini, etika juga harus menjadi subjek untuk selalu dikaji ulang dan dimutakhirkan.

Moralitas selalu berkaitan dengan tanggung jawab pribadi. Keputusan moral harus diambil oleh yang bersangkutan dan tidak ada individu atau instansi lain yang bisa mengambil alih tanggungjawabnya. Meski demikian, seseorang harus mengambil keputusan yang rasional dan beralasan. Studi tentang etika terutama bermanfaat dalam meningkatkan mutu keputusan moral itu. Dalam konteks seperti itulah, sebuah buku panduan etik pernah diterbitkan oleh Manahara. Buku tersebut menjadi acuan bagi para anggota asosiasinya. Pertama-tama untuk Ataki, lalu kemudian juga bagi Gapeknas dan Askoni.

(021) 4711796

Ruko Grha Mas Pemuda Blok AD/3
Rawamangun, DKI Jakarta