Sejarah dan Perkembangan: Perjalanan Hidup Asosiasi Tenaga Ahli Konstruksi Indonesia (ATAKI).

Di tahun 2015, ada peningkatan di ranah pasar konstruksi nasional. Kurang lebih transaksi diperkirakan berada di kisaran Rp. 407 triliun. Berdasarkan pantauan pihak pemerintah, pasar konstruksi mengalami kemajuan yang cukup siginifikan. Bahkan, pertumbuhannya mampu melebihi pertumbuhan ekonomi.

Sejak tahun 2012, menurut catatan Kementerian PU, pasar konstruksi tumbuh terus-menerus. Mulai dari angka transaksi Rp. 284 triliun dan kemudian mencapai angka Rp369 triliun. Pertumbuhan ini bukan semata-mata dikarenakan animo masyarakat yang semakin gesit terkait pembangunan infastruktur.

Kebijakan pemerintah yang men-support adanya kegiatan konstruksi pun memiliki peran tersendiri. Berkat adanya peran pemerintah, pasar konstruksi semakin hari terus meningkat. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya kontraktor Indonesia. Hingga saat ini, sudah ada sekitar 117.042 kontraktor dan 4.414 konsultan. Angka yang cukup besar.

Berbicara mengenai kegiatan usaha jasa konstruksi tak sah bila melupakan Asosiasi Profesi, salah satunya ATAKI. Asosiasi Tenaga Ahli Konstruksi Indonesia atau disingkat ATAKI berdiri di tahun 1999 di kota Jakarta. Demi menciptakan tenaga ahli konstruksi Indonesia yang berkualitas, Asosiasi ATAKI berharap adanya kesetaraan dari sisi kualitas antara tenaga ahli konstruksi Indonesia dengan tenaga ahli konstruksi luar negeri.

Untuk menciptakannya, Asosiasi ATAKI mau tak mau harus membina setiap ahli konstruksi Indonesia agar lebih produktif, kompeten dan berkualitas internasional. Selain menyetarakan dari sisi kualitas, ATAKI pun berusaha menyatukan pihak pengusaha dan pekerja. Hal ini dimaksudkan agar tercipta kesejahteraan yang berimbas pada kemajuan ekonomi nasional.

Tak berhenti sampai di situ. Adanya animo yang semakin tinggi dan kebutuhan akan Sertifikat Keahlain (SKA) sejak 2005 ATAKI memberikan pelayanan administratif terkait sertifikasi dan registrasi tenaga ahli konstruksi. Diantaranya, sertifikasi Arsitektur dan Sipil. Bahkan, di tahun berikutnya, ATAKI menambah pelayanan khusus pada bidang Mekanikal dan Tata Lingkungan. Hal ini diwujudkan dengan membantu menerbitkan sertifikasi keahlian dan ketrampilan.

Visi untuk memajukan para ahli konstruksi semakin hari semakin menemukan titik temu. Asosiasi ATAKI, hingga saat ini, sudah menerbitkan empat puluh ribu Sertifikat Keahlian (SKA) untuk tenaga ahli telah diterbitkan. Alhasil, ini menjadikan ATAKI menjadi lembaga yang kompeten mengelola dan menumbuhkan ekosistem pekerja konstruksi tanah air. SKA adalah persyaratan penting yang harus dimiliki oleh tenaga ahli untuk dapat ditetapkan sebagai Penanggung Jawab Teknik (PJT) atau Penanggung Jawab Klasifikasi (PJK) oleh perusahaan untuk mendapatkan Sertifikat Badan Usaha (SBU) yang dikeluarkan oleh LPJK Nasional atau LPJK Propinsi.

Apa yang dilakukan asosiasi ini sebenarnya sudah sejak dulu dibutuhkan oleh pekerja dan pengusaha Konstruksi. Dulu, aspek keselamatan apalagi kesejahteraan terasa pahit bagi kedua belah pihak. Tidak hanya pekerja saja yang kesulitan meningkatkan derajat kesejahteraan, pihak pengusaha pun harus rela merogoh kocek dalam hanya untuk merekrut ahli konstruksi yang kompeten.

Hadirnya Asosiasi ATAKI menciptakan kesetaraan bagi keduanya. Bisa dikatakan, ATAKI merupakan jembatan penghubung bagi kedua pelaku bisnis ini agar tercipta ekosistem yang saling menguntungkan.

Manfaat rillnya, saat ini sudah banyak ahli konstruksi dengan kemampuan setara ahli konstruksi asing. Dari sisi pengusaha, mereka memiliki banyak referensi pekerja konstruksi. Perkawinan kedua aspek pasar konstruksi ini secara tak langsung memiliki andil positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

(021) 4711796

Ruko Grha Mas Pemuda Blok AD/3
Rawamangun, DKI Jakarta